/bamboo/logo.png English Version Teh herbal dari daun bambu
Tentang Sahabat Bambu
KalasanSahabat Bambu memulai usaha pengawetan bambu karena melihat kenyataan berlimpahnya sumberdaya bambu di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. Orang Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak". Sahabat Bambu hadir untuk mengangkat citra bambu dengan menghasilkan produk berkualitas yang indah, kuat, dan tahan lama. Bambu yang dipanen dengan benar dan diawetkan merupakan bahan yang kuat, fleksibel, dan tahan lama, yang dapat dijadikan bahan alternatif pengganti kayu yang semakin langka dan mahal. 
Pendirian Sahabat Bambu tidak terlepas dari kejadian gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada Mei 2006. Dalam masa tanggap darurat dan rekonstruksi Yogyakarta pasca gempa, banyak lembaga Nasional dan Internasional menggunakan bambu untuk membuat rumah, sekolah, balai pertemuan masyarakat, dan bangunan-bangunan lainnya. Penggunaan bambu secara besar-besaran untuk membuat rumah darurat bagi korban gempa di Yogyakarta dan sekitarnya membuat para penggagas Sahabat Bambu merasa prihatin. Karena ketidaktahuan mengenai seluk-beluk bambu maka proyek bangunan bambu pasca gempa hasilnya sangat menyedihkan karena baru beberapa bulan saja sudah rusak dimakan kumbang bubuk. Selain mubazir, pemanfaatan bambu untuk membantu korban gempa telah mendorong eksploitasi bambu, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga mengancam kelestarian bambu. Dalam sehari tidak kurang dari 12.000 batang bambu apus, peting, dan wulung masuk ke gudang-gudang untuk dipabrikasi menjadi potongan-potongan bahan membuat rumah. Jumlah pohon yang ditebang tentunya jauh lebih besar dari angka itu mengingat para supplier umumnya melakukan penebangan bambu dengan cara babat habis rumpun, bukan pilih tebang. 
Berdasarkan situasi tersebut tiga personil MAP-Indonesia, yaitu Jajang Agus Sonjaya, T. Lukmanul Hakim, dan Benjamin Brown membangun sebuah rencana proyek pengembangan bambu terintegrasi. Sebelumnya, ketiga penggagas ini telah beberapa tahun menggeluti bambu untuk membangun pusat-pusat belajar masyarakat pesisir, baik di Indonesia maupun luar negeri. Selain untuk pusat belajar, bambu juga diperkenalkan sebagai bahan pengembangan matapencaharian alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Visi : Terciptanya bambu yang lestari dan bermanfaat secara berkelanjutan
Misi : Mengembangkan usaha bambu dengan manajemen hulu-hilir yang berorientasi pada pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan.
  1. Pengawetan. Usaha pengawetan bambu dengan teknologi tepat guna, efisien, dan ramah lingkungan.
  2. Konstruksi - Pemanfaan bambu awetan sebagai bahan untuk bangunan, perabotan dan produk kerajinan 
  3. Konservasi - Upaya pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan melalui kegiatan penelitian, pengembangan, pelatihan, dan konsultasi.
Halaman Berikutnya: Tentang Pengawetan
Sahabat Bambu Indonesia Pangkas Clearcut Pekanbaru   Studio WNA