Pengawetan Tradisional

Cara mengawetkan bambu secara tradisional

Sahabat Bambu
Cover Image

Yang dimaksud dengan pengawetan tradisional di sini adalah praktik dan perlakuan tertentu pada bambu yang olah masyakat secara turun temurun yang bertujuan untuk meningkatkan masa pakai bambu. Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa:

Pengendalian waktu tebang. Adalah pengaaturan waktu penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang menurut kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang waktu. Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi, diantaranya:

  • Penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
  • Penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan ketahanan bambu.
  • Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat mengurangi serangan hama pada bambu.

Perendaman bambu. Bambu yang telah ditebang direndam selama berbulan-bulan bahkan tahunan agar bambu tesebut tahan terhadap pelapukan dan serangan hama. Perendaman dilakukan baik di kolam, sawah, parit, sungai atau di laut.penebangan waktu pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem ini adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat akan mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh waktu yang cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan hingga bau berkurang dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.

Pengasapan bambu. selain pengendalian waktu penebangan dan perendaman, secara tradisional bambu juga kadangkala diasap untuk meingkatkan daya tahannya. Secara tradisional bambu diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat pembakaran lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu di Jepang dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan yang lebih maju untuk mengawetkan bambu dalam skala besar untuk kebutuhan komersil.

Pencelupan dengan kapur. Bambu dalam bentuk belah atau iratan dicelup dalam larutan kapur (CaOH2) yang kemudian berubah menjadi kalsium karbonat yang dapat  menghalangi penyerapan air hingga bambu terhindar dari serangan jamur.

Pemanggangan/pembakaran/pemanasan. Biasanya untuk bambu dengan diameter kecil seperti jenis cendani. Pemanasan dapat meningkatkan ketahanan bambu dan menjadikannya lebih menarik secara estetika, warna bambu menjadi lebih kuning dan mengkilap. Pada bambu yang berdiameter besar pemanasan biasanya dilakukan untuk meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya. Proses pemanasan bambu dapat merusak struktur gula yang ada dalam bambu, sehingga membentuk karbon, akibatnya bambu yang telah dipanaskan atau dibakar tidak disenangi oleh kumbang atau jamur dan terhindar dari kerusakan.